Jumat, 31 Agustus 2012

Arnold Purnomo, Chef Muda Professional [Biografi]

Arnold Purnomo
Chef Muda Professional
Sejak kecil saya dekat dengan dunia kuliner. Ibu adalah seorang koki dan nenek saya juga memiliki restoran. Tapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi chef. Karena belajar marketing, dulu saya ingin menjadi marketing director. Sejak usia 10, saya dan keluarga pindah ke Sydney. Di kota inilah saya mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia kuliner. Saat berusia 14, demi iseng mendapatkan uang saku tambahan, saya bekerja di sebuah kafe dekat rumah, dimulai dengan membersihkan dapur. Lalu saya pindah bekerja ke sebuah restoran milik seorang celebrity chef di Australia. Selain itu, ibu saya memiliki beberapa rekan yang berprofesi sebagai chef, terkadang saya suka 'bermain' di dapur mereka. Saat ingin kembali ke Indonesia, saya pilih Jakarta sebagai tempat memulai karier profesional di dunia kuliner. The Nest Grill adalah restoran pertama yang saya kelola sejak Juli tahun 2010. Dalam waktu dekat, saya ingin membuat satu acara di bulan November 2011. Saya mengundang beberapa tamu, salah satunya teman saya yang pernah hadir di MasterChef Australia. Saya juga sedang mempersiapkan pembukaan restoran kedua yang direncanakan selesai tahun 2012.


Saat mengikuti Indonesia Barista Competition
pada 2011 lalu, namun gagal raih juara
Selain ibu, saya juga terinspirasi dari seorang juru masak terkenal asal Amerika, yaitu Grant Achatz. Dulu ketika terserang kanker lidah, dia tidak bisa merasakan apa pun, tapi tak pernah putus asa. Kegigihan dan kesuksesannya telah menginspirasi saya. Dalam memasak, saya sering menggunakan seafood sebagai bahan masakan. Bermacam seafood menghasilkan rasa yang berbeda, sehingga saya bisa berkreasi lebih banyak. Saya juga suka coba menghasilkan menu dengan satu ingredient baru.
       
Selama mengelola The Nest Grill, saya punya satu pengalaman tak terlupakan. Malam itu ada dua orang tamu datang ke restoran ini. Saat salah satu dari mereka melihat daftar menu, ekspresi wajahnya tampak tidak senang dengan menu yang ditawarkan. Padahal saat itu saya baru saja menambahkan menu baru lho. Saya dan semua rekan di sini jadi bingung dan salah tingkah karena menduga tamu itu pasti seorang chef. Setelah bertanya langsung, ternyata tamu itu bukan chef dan dia pun tidak ada masalah apa pun dengan menu kami, hahaha… Saya jadi malu sendiri jika teringat kejadian itu. Selain itu, sewaktu pertama kali melakukan pembukaan restoran ini, kami harus membuat makanan untuk 800 orang dan menata restoran yang saat itu masih kosong hanya dalam waktu singkat.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar